15 April

Part 1

Aku sangat membenci tanggal 15 April. Walaupun pada tanggal itu, kedua orangtuaku menikah dan aku dilahirkan. Pada tanggal 15 April, ayah dan ibu meninggal karena kecelakaan pesawat. Pada tanggal 15 April, kedua kakakku meninggal karena kebakaran rumah. Aku sangat membenci tanggal lima belas april.

Kinipun, aku hanya tinggal sendiri bersama kakak sepupuku, Kak Kenzo di rumahnya. Orangtuanya juga korban kebakaran rumah itu. Aku sangat merindukan mereka semua. Ayah, ibu, dan kedua kakakku.

Aku sangat membenci nostalgia yang menyebalkan ini. nostalgia yang dimiliki semua orang, dan kejadiannya berbeda-beda. Nostalgia yang pahit, yang harusnya menyenangkan. Tidak bisakah Tuhan menunda dulu peristiwa pada hari itu? Tidak bisakah?

Bahkan, sekarang aku malu mengakui aku lahir pada tanggal lima belas april. Menyebutkannya saja membuatku terlempar kembali ke peristiwa sepuluh tahun silam.

“Nay. Naya,”panggil seseorang membuatku tersadar dari lamunanku.

“Ya, kak?”aku berusaha tersenyum.

“Kamu lupa? Hari ini pengumuman nilai. Jangan sampai telat, Nay.”Kak Kenzo menyodorkan piring berisi nasi goreng kepadaku. “Makan ini dulu. kamu pokoknya harus lulus.”

Aku tersenyum getir. Mataku berkaca-kaca, “Makasih, kak…”

“Iya. Hari ini kakak libur kerja, besok dan lusa juga. Jadi kakak bisa menghadiri wisudamu.”ucap Kak Kenzo. Aku tersenyum lagi. Iapun menghilang dari pandanganku. Aku bergegas melahap nasi goreng buatan Kak Kenzo.

Kak Kenzo sangat baik padaku. Ia sudah tinggal bersamaku sejak aku berumur dua belas tahun, ketika semua kejadian itu terjadi. Hingga sekarang. Aku sangat menyayanginya. Karena hanya dia satu satunya keluargaku. Aku masih bersyukur, karena Tuhan memberikan sebuah pengganti kepadaku.

&&&

Sesampainya di kampus, nilai sudah terpajang di papan tulis. Aku pun mencoba menyelip diantara kerumunan orang-orang. berhasil. Aku mencoba mencari namaku. Yap! Namaku berada di urutan kedua. Yes!!! Aku bersorak senang. Nilaiku cukup bagus, lebih dari target ku. Mukaku dihiasi senyum hari itu.

&&&

“Kak! Aku mendapat urutan kedua!!”sorakku. kak Kenzo tertawa, ia menepuk pundakku.

“Ya sudah, ganti baju dulu sana…”perintah Kak Kenzo. Aku mengangguk. Akupun bergegas ke kamar dan berganti baju. Setelah itu, aku menghampiri Kak Kenzo yang sedang membaca novel. Aku ingin curhat kepadanya tentang kebencianku pada tanggal lima belas. Aku sudah tidak kuat menahannya.

“Kak…”panggilku perlahan.

“Ya?”jawab Kak Kenzo tanpa menoleh.

“Aku mau tanya,”ujarku.

“Apa?”

“Apa yang paling kakak benci di hidup ini?”tanyaku to the point. Kak Kenzo menutup bukunya, ia menatapku, lalu ia membuka mulutnya, bersiap menjawab pertanyaanku,

“Aku paling membenci …”

-Bersambung-

Kira-kira apa ya, yang paling kak Kenzo benci?

please kritik dan sarannya ya! 🙂

 

Advertisements

My Profile

Nama: Nabila Alifiana S.

Blog: https://www.syahidahmenulis.wordpress.com

 

Cacar

Wabah Cacar sedang melanda di Keluarga besarku. Aku menjadi korban ke 6. Keluarga besar, maksudnya keluargaku memiliki banyak anggota, aku memiliki banyak saudara. Aku memiliki 7 kakak dan 2 adik. Namaku Alita Maharani Suryanto. Panggil aku Rani, aku umur 11 tahun, kelas 6 SD.

“Rani, kamu bosan yah?”tanya Kak Zalfa, kakakku yang nomor 3.

“Iya, nih, kak.”jawabku dengan lesu. Aku libur sekolah karena aku cacar. Sementara Kak Zalfa, ia sedang cuti kerja, ia bekerja di Toko Bolu terkenal.

“Yuk, kita jalan jalan!”ajak Kak Zalfa.

“Lho? Emangnya boleh, kak?”tanyaku heran.

“Kata siapa? Kalau kamu terus-terusan gak kena sinar matahari, malah kamu ga bisa sembuh!”jawab Kak Zalfa.

“Yuuk!!!”akhirnya aku setuju.

&&&

Saat kami berjalan-jalan, kami melewati sebuah kursi kayu dilengkapi 2 pohon rindang di sisi-sisinya. Ada sekitar 8 buah kursi seperti itu di kompleks-ku. Suasana seperti itu pasti di sukai semua orang. Oleh karena itu, banyak orang yang ingin duduk di sana. Ada sebuah kursi kayu, tanah yang di tempati kursi kayu itu luasnya sekitar 5 meter, dan tanah itu sudah di beli oleh Bu Leha, suaminya seorang juragan beras. Jadi, kursi kayu itu milik Bu Leha. Kami melewati kursi itu. Kursi kayu bu Leha di beri nama oleh penduduk sekitar, yaitu Kursi Gosip Bu Leha. Kenapa? Karena kursi itu sering dipakai Bu Leha bergosip dan ngerumpi.

“Bu Winda, lihat, deh, keluarga Pak Suryanto! Anak anaknya kena penyakit bintik-bintik. Hiiihhh… serem!”Bu Leha, si pemimpin gosip berbisik bisik.

“Iya, ayah-ibu nya dosa apa, ya?”jawab Bu Winda dengan sinis. Aku membuang muka. Bu Winda merapatkan duduknya dengan Bu Leha dan Bu Ghea, tak mau ketinggalan rupanya.

“Aduuh… si Bu Winda!! Kaya nggak tahu ajaaahhh… mereka khan, kena khutukhaaaannn…. nenek sihir yang ke 10!”Bu Ghea menambahkan bumbu-bumbu. Kak Zalfa dan aku tertawa mendengarnya. Aku melirik kak Zalfa, ia sedang sibuk dengan ponselnya. Aku mengamati kakakku lebih dalam. Ternyata ia sedang merekam video ibu ibu itu bergosip. Dasar kakakku!

“Udah gitu, pake jalan jalan lagi, kan bisa nulaarrr…”seru Bu Leha menakut nakuti. Ia menggeser duduknya sehingga lebih dekat dengan kedua temannya.

“Aaaahhh… masa siiiihhh??? Serem dooongggg!!!”Bu Ghea berkomentar dengan gaya lebay nya.

“Iya, ayo, yok! Cepet cepet pulang… hiiyy… ngeri!”Bu Winda menarik tangan kedua temannya.

&&&

“Kak, ibu ibu itu bodoh sekali!”ucapku ketika sampai di rumah.

“Iya, biarkan saja. Besok akan kakak ingatkan mereka kalau mereka lewat di depan rumah kita.”ujar Kak Zalfa sambil terkikik geli. Sepertinya, ia punya rencana. Aku Cuma mengangguk saja.

&&&

Esoknya, kami berdua sedang duduk di teras rumah. Kak Zalfa sedang asyik dengan ponselnya, sementara aku sibuk membaca Buku Novel.

Taklama, Bu Leha the geng pun lewat, sambil membawa belanjaan. Sepertinya, mereka habis dari pasar. Namun, Bu Leha dan kawan-kawannya dimana saja dan kapan saja selalu bergosip, kecuali saat mandi.

“Hey, Bu Ghea, lihat tuuh… si kutukan! Kasiaan amat sih!”tiga ibu ibu itu lewat sambil menunjuk nunjukku. Kak Zalfa menaruh ponselnya, dan menatap tiga ibu itu. Mereka bertiga tak peduli, terus bergosip.

“Hahaha… emang cocok dia kena kutukan nenek sihir ke 10. Menyeramkan…”ujar Bu Ghea, ia berjalan lebih lambat.

“Hey, ibu ibu. Sini!”Kak Zalfa memanggil mereka dengan marah. “Jangan asyik nge gosip aja!”. Ketiga Ibu itu menatap Kak Zalfa, lalu menghampirinya.

“Ya? Ada apa?”Bu Winda dkk mendekat.

“Adik saya itu gak kena kutukan. Dasar sok tahu.”Kak Zalfa menggerutu.

“Hah? Siapa yang bilang, ya?”Bu Leha mengelak. Bu Ghea dan Bu Winda mengangguk setuju.

“Loh, kan, ibu yang bilang!”Kak Zalfa menunding Bu Leha. Aku mengangguk. Bu Leha dan teman-temannya pun seketika pucat.

“Tidak, neng. Saya gak bilang. Palingan juga bapak-bapak yang bilang. Ya, kan, buu??”Bu Leha memimpin kompak. “Lagian, saya juga udah berhenti nge gosip! Bener, kan, Bu Winda dan Bu Ghea?”

“Iyaaaa….”mereka berseru kompak. Tak mau kalah rupanya.

“Ah, ya, masa? Kalau kami punya bukti?”Aku menantang. Kak Zalfa mengangguk. Ia meraih ponselnya di meja teras.

“Tidaklah, kami saja tidak melakukan. Kami tidak melakukan, cakep. Tidak mungkin.”Bu Winda menggeleng. Bu Ghea dan Bu Leha mengangguk setuju.

“Kami punya buktinya, bu!”seruku lantang. Muka mereka bertiga seketika pucat. Namun, Bu Leha langsung bicara.

“Aduuuh, kalian ini jangan menuduh sembarangan. Kalian pasti mengajak bermain yaa?? Ngaku saja!”sahut Bu Leha dengan tenang. Pandai juga, acting Bu Leha ini. “Ah, anak-anak memang kurang bermain. Ayo, ibu-ibu, kita ke rumah saya saja yuk, kita rujakan, yukk!”

“Benar, kami punya buktinya. Mau ditunjukan?”Kak Zalfa bertanya.

“Tidak mungkin! Kami saja tid—“

“Ini buktinya!”Kak Zalfa menunjukan video ketika mereka asyik mengobrol.

“Haaahhh??? Kok??”Bu Winda terkejut. Bu Leha berbisik.

“Eeeehhh… iya! Emang bener kok, mereka kena kutukan!”Bu Ghea membela diri. “Kutukan Nenek Sihir ke 10 lagi!”

Kami berempat tertawa. “Ibu ibu, mana ada nenek sihir coba?”aku bertanya di sela sela tawaku.

“Lha terus apa, dong?”Tanya Bu Winda dengan polosnya..

“Penyakit bintik-bintik ini adalah penyakit yang disebut penyakit cacar. Cacar bisa berisi 3 cairan, yaitu air, darah, dan nanah. Penyakit ini disebabkan kuman, bukan kutukan, dan penyakit ini bisa sembuh jika rutin diobati.”jelas Kak Zalfa yang jago IPA dan Ilmu Kedokteran.

“Ooohh… begitu, ya. Maaf ya, neng Rani. Sudah su’udzon.”Bu Leha, Bu Ghea dan Bu Winda meminta maaf.

“Iya, enggak apa apa. Lain kali ga boleh suudzon ya.”sahutku dengan lega.

“O iya, Bu Leha tadi mau bikin rujak? Saya juga mau, ya! tenang, di rumah saya ada jambu, nanas dan kedondong, lho. Juga ada kacang. Ayo, kita rujakan!”Kak Zalfa tersenyum senang. Taklama kemudian, Bu Leha, dan Kak Zalfa sibuk di dapur. Sementara aku, Bu Winda dan Bu Ghea sibuk memetik jambu merah di depan rumah.

dan, sekarang, tidak ada lagi yang namanya GOSIP IBU-IBU.

 

 

Semangka Misterius

Aku berlari kencang menembus hujan. Tak peduli pakaianku basah. Ah, itu dia! Rumahku sudah kelihatan dari tempatku belari. Rumah bercat putih dengan pagar tinggi hitam. Aku berlari lebih cepat. Cuaca dingin begini membuatku kedinginan. Aku segera masuk ke dalam halaman rumahku, dan membuka pintu yang terkunci. Ah, lega rasanya ketika sudah sampai di ruang tamuku. Hm, kenapa rumah ini sepi sekali? Astaga! Aku lupa menjemput Kevin, putra semata wayangku. Tapi, hujan turun semakin deras. Aku malas basah kuyup diluar sana. Ya sudahlah. Aku mandi saja dulu. Setelah itu, aku pesan taxi untuk menjemputnya. Aku masuk ke kamar mandi, sambil membawa handuk dan pakaian ganti.

Lima belas menit kemudian, aku keluar dari kamar mandi. Betapa terkejutnya aku, melihat Kevin sudah duduk manis di kursi ruang tamu sembari memegang ponselnya.

“Astaga! Kau sudah pulang, nak?”tanyaku terkejut. Kevin hanya mengangguk pelan. “Maaf ibu tidak menjemputmu, karena hujan deras.”lanjutku lagi.

“Iya, bu. Tidak apa-apa. Oh iya, apakah Ibu mau semangka?”tanya Kevin.

Aku tersenyum, “Tidak. Ibu capai sekali harus mengupas dan memotong buah besar itu.”tolakku halus.

Kevin ikut tersenyum, ia berjalan ke dapur, dan menyodorkan sepotong semangka untukku. Aku terkejut.

“Kau pasti membeli di tukang rujak, ya?”selidikku. Kevin tertawa.

“Tidak, bu. Aku membeli buah semangka ini di supermarket. Lalu, aku mengupasnya tadi.”

Aku memicingkan mata, tak percaya. “Setahu Ibu, kau tidak bisa mengupas semangka. Darimana kau belajar? Apakah kau ikut les mengupas buah?”tanyaku bertubi-tubi karena terlalu senang. Setahuku, anak lelaki jaman sekarang, jangankan mengupas semangka, mengupas apel saja tidak bisa. Mereka lebih banyak bersenang-senang di Mall, lapangan basket atau bola, dan enggan membantu ibunya di dapur. Dan, Kevin bisa melakukannya. Kevin dan Aku tertawa bersama-sama. Aku mengambil semangka yang disodorkan Kevin.

“Kevin, tumben sekali kau tidak mengoceh.”komentarku sambil mengunyah semangka itu. Rasanya … berbeda. Tapi, sudahlah! Demi menghargai usaha putraku.

Kevin hanya terdiam. Benar-benar aneh. Pertama, dia bisa mengupas semangka, dengan tiba-tiba. Kedua, ia diam saja sedari tadi. Biasanya, ia selalu mengoceh, apa saja.

“Kevin, Ibu mau ke kamar. Ingin istirahat. Jika kau ingin keluar, izin dulu pada Ibu!”ujarku sembari menghabiskan gigitan terakhir. Kevin hanya mengangguk.

“Jika ibu mau semangka lagi, di dapur masih ada. Tapi, belum dikupas.”sahut Kevin, lalu kembali sibuk dengan ponselnya. Aku hanya mengangguk pelan. Lalu, berlari ke kamarku untuk istirahat. Penat sekali rasanya. Aku merebahkan diri di kasurku yang empuk. Baru saja memejamkan mata, pintu depan sudah di ketok.

“Assalamu’alaikum, Bu! Ibuu!!! Aku pulangg!!! Bu? Ibu?”terdengar teriakan.

Aku terperanjat. Kevin? Dia pergi … tanpa izin?! Aku beranjak, menghampirinya. Bukankah aku sudah berkata padanya, izin jika ingin keluar! Dia tidak mendengarkan atau bagaimana?! Aku bergegas membuka pintu kamar. Kevin berada di sofa ruang tamu, dengan tas sekolahnya.

“Kevin! Kau pasti tadi bermain, ya?!”tanyaku kesal. “Ibu kan sudah bilang, izin dulu jika ingin keluar!”

“Aku tidak bermain, bu! Ada tugas dari sekolah. Lagipula, tadi ibu tidak bilang begitu.”Kevin melepas tasnya, menatapku heran.

“Bohong. Kau berbohong, Kevin!”

“Tidak, bu. Tadi, aku pulang terlambat karena ada tugas dari sekolah! Lagipula, dari tadi pagi pukul 8, aku belum bertemu dengan Ibu. Kecuali, sebelum pukul 8, aku masih di rumah.”Kevin menatapku bingung. Aku dan Kevin sama-sama melotot. Tiba-tiba, bel rumah berbunyi. Aku bergegas membuka pintu. Aku mendapati, Jessica, sahabat Kevin berdiri di depan pintu sambil membawa payung.

“Assalamu’alaikum, Tante! Maaf mengganggu. Ini, buku tulis Kevin, ketinggalan di sekolah.”ucap Jessica sambil menyodorkan buku tulis milik Kevin. Kevin yang di belakangku bergegas menyambarnya. Matanya melirikku, seolah berkata, Tuh bu, aku tidak bohong kan!

“Terima kasih, Jessica! Bagaimana tugasnya? Maaf tadi, aku pulang duluan!”tanya Kevin.

“Sama-sama, Kevin. Hampir selesai. Insya Allah, besok selesai. Jadi, besok kita pulang telat lagi. Atau kita selesaikan hari ini.”jawab Jessica sembari mengusap air di wajahnya.

“Tante, Jessica pamit dulu, ya. Maaf, ya, tante, Kevinnya pulang telat nggak izin. Soalnya, tugas mendadak. Assalamu’alaikum!”gadis cantik berambut cokelat itu mencium tanganku dan berlari pergi, menembus hujan dengan payung birunya. Aku terperangah. Jadi? Kevin pulang telat? Tidak mungkin!

“Kevin, tolong jawab dengan jujur! Apakah benar kamu pulang telat?”tanyaku memastikan.

Kevin melengos, “Benar, bu! Kan, sudah ada bukti dan saksi. Masa ibu tidak percaya?”gerutunya. Aku menelan ludah.

“Ya sudah, maafkan ibu. Sekarang, kamu mandi dan ganti baju.”perintahku lembut. Kevin menurut. Tetapi, aku masih bertanya-tanya. Lalu? Yang menawarkanku semangka siapa?

ket: cerpen ini kubuat bersama temanku, Qonita Tsania. Follow IG ( @qonitatsn) dan buka FB nya (Qonita Tsania).

 

Sari Kacang Hijau

Aku sangat menyukai sari kacang hijau, buatan ibuku tentu saja. Dulu, sewaktu aku berumur 2 tahun, aku suka sekali minum sari kacang hijau, begitu berhenti minum ASI. Bahkan, kata kakakku, aku bisa menghabiskan lebih dari 5 gelas sari kacang hijau dalam sehari. Rambutku sangat lebat dan hitam. Kata teman-temanku, aku sangat cocok menjadi duta iklan shampoo. Dan sampai umur 12 tahun, aku masih suka minum sari kacang hijau.

“Thea! Thea, aduh kemana sih anak itu?”Ibu memanggilku. Bergegas aku keluar dari besement, tempat khususku.

“Ya, bu?”tanyaku sambil menghampirinya. Kulihat, di tangannya terdapat sari kacang hijau yang dibungkus plastik. Aneh, kalau untukku untuk apa dibungkus?

“Tolong antarkan ini ke tetangga sebelah, dia baru saja datang dari Bandung.”pinta mama.

“Oke ma,”sahutku, aku pun segera mengambil sari kacang hijau itu dan bergegas keluar. Angin kencang berhembus, membuat rambutku berkibar-kibar. Rumah tetangga itu ada di sebelah kiri rumahku. Warnanya putih bersih, tingkat dua, minimalis, dan halamannya dihiasi bunga melati. Aku pun masuk ke halamannya, dan mengetok pintu rumahnya.

“Assalamu’alaikum, permisi.”aku mengetuknya dengan sopan. Taklama, pintunya dibuka. Seorang gadis dengan rambut dikuncir ekor kuda.

“Wa’alaikum salam. Ada apa?”tanyanya sopan.

“Em, ini. ada titipan dari ibuku. Buat keluargamu.”jawabku sambil tersenyum. Aku menyerahkan bungkusan sari kacang hijau itu.

“Oh begitu. Terima kasih, ya. namamu siapa? Masuk dulu, yuk.”ajak gadis tersebut. Akupun menolak dengan sopan,

“Maaf, nanti malah merepotkan.”

“Eeeh, enggak. Aku lagi sendiri di rumah. Orangtua dan adikku sedang ke supermarket.”ujarnya. Ia lalu menarik tanganku agar masuk. Aku mengalah. Kamipun menuju ruangan yang sepertinya ruang tamu. Ruangan putih bersih dengan dua sofa berwarna merah marun yang berhadapan dan di tengahnya terdapat meja kayu jati dengan ukiran batik. Selebihnya kosong, kecuali lampu besar di langit-langit dindingnya. Mungkin karena baru pindah.

“Namamu siapa?”Tanya gadis cantik itu.

“Em, namaku Theanita. Panggil aja Thea. Kalau kamu?”

“Aku Tania.”

“Oh, kamu nanti akan sekolah dimana?”

“Kalau tidak salah, SMP Cinta Alam, kelas 7.”jawab Tania.

“Wah. Itu sekolahku. Aku berada di kelas 7A. Semoga kita bisa sekelas ya,”aku bersorak senang. Tania tertawa,

“Semoga. Oiya, rumahmu dimana, Thea?”

“Di sebelah rumahmu. Yang bercat biru muda.”jawabku.

“Oh. Besok kita berangkat bersama-sama, ya.”

“Oke.”aku setuju. “Aku pulang dulu, ya. sekarang waktunya makan siang.”

“Ya sudah. Bye,”

Itu pertama kali aku mengenal Tania, gadis cantik yang baik. Dan karena sari kacang hijau. Aku sangat berterimakasih pada kacang hijau itu. Dia membantu banyak dalam hidupku. Sekitar 3 tahun lalu…

&&&

Ibu tampak bingung dengan sikap Mia, adik Thea. Dia tidak mau makan bubur bayi yang ibu buat. Ibu bingung, karena di luar hujan deras, petir menyambar, jika tidak mau bubur bayi, mau apa lagi? Di kulkas tidak ada makanan, di luar hujan.

“Thea, bagaimana ini? Mia tidak mau makan.”keluh Ibu. Thea hanya terdiam. Tiba-tiba terlintas ide.

“Aha! Gimana kalo buat bubur kacang hijau atau sari kacang hijau?”usul Thea.

“Ya sudah.”Ibu setuju. akhirnya, ibu memasak bubur kacang hijau untuk Mia, Mia suka dan lahap memakannya.

&&&

Siapa kah disini yang suka bubur kacang hijau atau sari kacang hijau atau kue kacang hijau atau olahan kacang hijau lainnya? Yuk, kita makan sama-sama!

Anak yang pemaaf

Anak yang Pemaaf

Asalamuallaikum teman-teman kali ini Diana, Syamil dan Zahra akan menyampaikan pesan kesan yang menyenagkan. Bismillah yuk kita baca.

“Diana main, yuk”Zahra memangil. Diana tidak mau keluar rmh padahal Diana ada didalam. “kak, kakak kok diam saja kan kak Zahra sdh memangil kakak”tanya Syamil.“kakak tdk mau keluar”seru Diana.“kok kakak gitu kan kak Zahra gak buat apa-apa”tanya Syamil lg.

“selama ini kan kakak paling suka bermain sama kak Zahra”Syamil terus berbicara. “kakak lagi marah sama kak Zahra ya? Memangnya kak Zahra punya salah apa?”. Diana mengentikan permainannya. “tadi pagi Zahra ngilangin buku dongeng kakak”jawab Diana. “Oooh…,”Syamil membulatkan matanya. “Makanya, Kakak tidak mau main dengan Zahra.”

“kak Zahra sudah minta maaf?” tanya Syamil. “sudah, tp kakak gak mau maafin Zahra. Zahra jahat”jawab Diana. “kok kakak gitu? Buku kan bisa dibeli lagi, kak”. Diana mengeleng. “Nggak mau”ujarnya. “kasihan kak  Zahra ,kak,”kata Syamil lagi. “Tapi buku yg hilang itu, buku dongeng kesukaan kakak. Kamu juga sangat menyukainya. Buku pangeran yang senang berbagi”

Syamil terdiam. Buku dongeng Pangeran Raja yg senang berbagi. Itu memang buku yang mereka sukai. Buku itu sekarang hilang?

Tiba-tiba Syamil keluar rmh menemui Zahra. “Kak Zahra! Masuk yuk! Kak Diana ada didalam”kata Syamil. Zahra tersenyum. “Terima kasih ya”ucapnya. Zahra masuk mengikuti Syamil.

Begitu berada didalam, Zahra menyerahkan sebuah buku baru kepada Diana. Buku Pageran yang senang berbagi. “Kamu maukan memaafkan aku, kan?”kata Sera. Syamil melihat Diana sambil tersenyum. Pelan-pelan Diana mengangguk. Diana memaafkan Zahra.

Wasallamuallaikum kita sdh bacakan Alhamdullilah.

 

 

 

 

 

Princess Hanan

                                              Princess Hanan

Pada suatu hari di kerajaan Al-Firdaus di negeri Mint.Princess Hanan sedang mengobrol bersama sepupunya yang bernama Princess Haniz.mereka ingin bertemu Ratu Azhar di Kerajaan Ar-Rayaan di negeri Cocona.tak jauh dari kerajaan Al-Firdaus kira-kira mereka hanya melewati lembah kue Cocona dan puri Mint.

“untuk apa kita ke sana?”tanya Princess Haniz.”aku ingin bertemu Princess Wafa”ujar Princess  Hanan.”ya aku juga ingin bertemu Princess Wafa”kata Princess Haniz.”apakah kau ingin bertemu Ratu Azhar,Raja Syuja’?”tanya Princess Hanan.”tentu saja”jawab Princess Haniz.”memang ada keperluan penting ?”tanya Princess Haniz.”yaa aku ingin bertanya bagaimana cara membuat kue Cocona.dia juga ingin tau bagaimana cara membuat permen Mint”kata Princess Hanan.”aku ingin bertemu Raja Zobi dan Ratu Zahra”cetus Princess Haniz.

”aku merasa sepertinya kau kesal denganku.aku memang membuat kau bosan “sesal Princess Hanan.”E………..e………….e  enggak kok.aku yang minta maaf”kata Princess Haniz.”kalau begitu kita ke istana Cocona baru ke istana Adven.setuju?”tanya Princess Hanan.”yayayaya baiklah”kata Princess Haniz.”Hallo Princess Wafa”sapa Princess Haniz.”oh aku bukan Princess Wafa”kata anak kecil itu.

“oh kalau begitu mana Princess Wafa,Zifa?”tanya Princess Hanan.”oh Princess Hanan,mencari Princess Wafa ya?”tanya Zifa.”iya,kau tau Zifa?”tanya Princess Hanan.”ya,dia habis bermain bersamaku”kata Zifa.”oh dimana sekarang dia?”tanya Princess Hanan.”dia dii taman istana”jawab Zifa.”oh trimakasih”kata Princess Hanan.

”TUNGGU…….!”teriak Zifa.”ada apa”tanya Princess Hanan.”itu siapa?”tanya Zifa sambil menunjuk Princess Haniz.”oh dia sepupuku,namanya Princess Haniz”jawab Princess Hanan.”apa dia tlah mengenal Princess Wafa?”tanya Zifa.”ya”kata Princess Hanan.”tapi dia tau dari mana?”tanya Zifa.”dari Ratu Syifa”jawab Princess Hanan.”Ratu Syifa?Ratunya Princess Viola?”tanya Zifa.”yaa,kau tau dari mana?”tanya Princess Hanan.”dari Princess Viola”jawab Zifa.

“ya itu adikku”kata Princess Haniz sambil menarik tangan Princess Hanan.”kenapa aku ditarik?”tanya         Princess Hanan.”aku malas dengan Zifa.lagi pula dia jelek.dan miskin ,bajunya juga rombeng”cetus Princess Haniz.”meskipun dia miskin tapi ahlak nya baik sungguh beruntung ,tapi kalau dia kaya raya tapi ahlaknya sombong,tidak baik tidak beruntung”kata Princess Hanan.”ya ya ya baiklah”kata Princess Haniz.

             Tamat/Selesai